Tradisi Kekerasan Mahasiswa Makasar
Ratusan Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Makasar (UNM) terlibat bentrokan dengan ratusan supir angkutan kota di Makasar, Selasa (16/5). Akibat bentrokan yang berlangsung lima jam itu, enam angkot rusak. Bentrokan bermula dari kekesalan para supir terhadap aksi mahasiswa yang dilakukan dengan menutup jalan raya. Akibat penutupan itu, ratusan angkot yang menuju Terminal Malengkeri terhalang. Para supir mengaku dirugikan, sebab penumpang menjadi sulit didapat dan pendapatan mereka pun berkurang, padahal mereka harus mengejar setoran (Republika, 17 Mei 2006).
Aksi kekerasan yang dilakukan oleh Mahasiswa Makasar kerap terjadi akhir-akhir ini, dimulai dari peristiwa di Kampus Universitas Muslimin Indonesia (UMI) yang menyandera polisi, tawuran antarfakultas di Universitas Hasanudin (Unhas), dan yang terakhir peristiwa bentrokan mahasiswa UNM dengan supir angkot (16/5). Deretan peristiwa itu seolah-olah memberikan pesan kepada publik bahwa “inilah karakter mahasiswa Makasar” yang sesungguhnya. Karakteristik brutal Mahasiswa Makasar memang terlihat ketika mereka sedang melakukan aksi demo turun ke jalan, prosesi akhir aksi demo kerapkali diakhiri dengan kerusuhan atau bentrokan dengan aparat kepolisian.
Sungguh prihatin dengan kekerasan (brutalisme) yang dilakukan Mahasiswa UNM Makasar terhadap para sopir angkot kemarin. Apakah Mereka tidak sadar bahwa mereka adalah mahasiswa? Mahasiswa adalah sejenis bibit manusia unggulan yang mempunyai kemampuan nalar tinggi. Pendidikan tinggi yang jalani dengan kecerdasan emosional dan spiritual yang tinggi pula seharusnya menjadi tameng untuk bertindak lebih rasional dan proporsional.
Mereka harus mempunyai sikap yang lebih baik daripada orang-orang yang tidak belajar di perguruan tinggi. Setiap persoalan mestinya diselesaikan dengan dialog atau musyawarah, bukan dengan pentungan dan lemparan batu. Jika aksi-aksi kekerasan terus berlanjut, mereka telah gagal sebagai agen of change (Agen perubahan), malah sebaliknya, menjadi “agen masalah”.
Bentrokan antara mahasiswa dengan supir kemarin sungguh tidak bisa kita tolelir, apa pun alasannya. Apalagi bentrokan itu tidak ada kaitannya dengan inti permasalahan yang dituntut Mahasiswa, yaitu pertanggungjawaban polisi terhadap penembakan rekannya. Sangat wajar sekali seandainya para supir angkot protes terhadap tindakan pemblokiran jalan yang dilakukan berhari-hari, oleh Mahasiswa UNM, karena akibat dari pemblokiran tersebut merugikan pekerjaan mereka sebagai supir angkot.
Gejala kekerasan mahasiswa yang terjadi akhir-akhir ini mengundang pertanyaan, apakah ada yang salah dari sistem pengajaran di perguruan tinggi setempat, yang membuat mahasiswa sudah kehilangan identitasnya? Ataukah ada penyebab yang lainnya? Sangat ironis memang, di tengah menurunnya tawuran antarpelajar/siswa yang dulu sempat menjadi momok yang sangat memprihatinkan, lantas sekarang timbul gejala kekerasan di tingkat “kakak-kakaknya”.
Fenomena ini menjadi “pekerjaan rumah” yang perlu cepat diselesaikan bersama oleh berbagai kalangan, baik pihak perguruan tinggi, keluarga mahasiswa, dan mahasiswanya sendiri. Seandainya gejala ini tidak bisa diatasi, apa jadinya negara ini ke depan, kalau generasi pemimpin bangsa seperti ini adanya? Kita khawatir suatu saat nanti akan terjadi lost generation yang mengakibatkan hilangnya generasi pemimpin penerus bangsa, na’uzubillahi mindzalik. Jangan sampai “tradisi kekerasan” mahasiswa Makasar merambah ke perguruan tinggi lain. Semoga hal itu tidak terjadi! (CMM/Muhajir Arif).
0 komentar